Apa Itu Epilepsi? Kenali Gejala Khas & Penyebabnya
Kesehatan Tubuh

Apa Itu Epilepsi? Kenali Gejala Khas & Penyebabnya

21 April 2026 5 menit waktu baca
epilepsi adalah

Epilepsi adalah salah satu penyakit kronis yang memiliki gejala khas berupa kejang-kejang. Penderita epilepsi sering kali mengalami kejang kambuhan yang muncul tanpa ada pemicu pasti. Seseorang dapat didiagnosis epilepsi apabila mengalami kejang tanpa penyebab yang jelas lebih dari satu kali dengan jangka waktu antara kejang lebih dari 24 jam.

 

Epilepsi dapat terjadi pada semua kelompok usia, termasuk anak-anak. Oleh karena itu, setiap individu perlu mewaspadai kondisi ini. Mari cari tahu apa itu epilepsi selengkapnya melalui artikel berikut.

 

Apa Itu Epilepsi?

 

Epilepsi adalah gangguan pada sistem saraf pusat yang disebabkan oleh aktivitas listrik berlebihan di otak. Gejala utama epilepsi adalah kejang tanpa penyebab yang jelas pada sebagian atau seluruh tubuh. Tak jarang, kondisi juga menyebabkan penderitanya kehilangan kesadaran.

 

Perlu diketahui bahwa kejang memang gejala utama dari epilepsi. Tetapi, bukan berarti setiap orang yang mengalami kejang menderita epilepsi. Pada pengidap epilepsi, kejang akan berlangsung lebih dari sekali, alias berulang, dalam waktu yang sama atau berbeda.

 

Bahkan, pada beberapa kasus, epilepsi dapat terjadi ketika seseorang tidur. Kemungkinan besar penyebabnya adalah adanya perubahan fase tubuh dari sadar ke tidur yang memicu aktivitas otak menjadi abnormal. Kondisi ini juga dapat menyerang semua kelompok usia, mulai dari bayi, orang dewasa, hingga lansia. Namun, kondisi ini paling sering terjadi pada anak-anak di bawah usia 2 tahun dan orang dewasa di atas usia 65 tahun.

 

Jenis-Jenis Epilepsi

 

Penyakit epilepsi dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan bagian otak yang terdampak, yaitu epilepsi umum dan parsial. Berikut masing-masing penjelasannya:

 

  • Epilepsi umum: Kondisi ini terjadi di kedua bagian otak, mencakup grand mal (tonik-klonik) yang berisiko menyebabkan hilang kesadaran, mioklonik (penyebab badan atau bagian tubuh tersentak singkat), serta tonik (tubuh menjadi kaku, diikuti kejang tangan atau kaki).

  • Epilepsi parsial: Kondisi ini terjadi pada bagian otak tertentu sehingga menimbulkan gejala yang mungkin berkaitan dengan masalah indra, kejang pada jari-jari atau kaki, dan tremor.

 

Penyebab Epilepsi

 

Masih belum diketahui secara pasti apa pemicu epilepsi. Tetapi, beberapa kondisi yang mungkin menjadi penyebab epilepsi adalah sebagai berikut:

 

  • Gangguan perkembangan seperti autisme dan neurofibromatosis.

  • Cedera sebelum persalinan. Hal ini karena sebelum lahir, bayi sensitif terhadap kerusakan otak yang disebabkan oleh beberapa faktor seperti kekurangan oksigen, nutrisi buruk, atau infeksi pada ibu.

  • Penyakit menular seperti HIV/AIDS, meningitis, serta ensefalitis virus.

  • Kondisi otak yang menyebabkan kerusakan pada otak, seperti stroke dan tumor otak.

  • Cedera pada kepala akibat kecelakaan, terjatuh, atau cedera traumatik lainnya.

  • Pengaruh genetik (memiliki keluarga dengan riwayat epilepsi).

 

Berdasarkan penyebabnya, epilepsi dapat dibedakan menjadi epilepsi simptomatik dan idiopatik. Berikut penjelasannya:

 

  • Epilepsi simptomatik (sekunder): Jenis epilepsi yang penyebabnya dapat diketahui, yaitu karena adanya sejumlah faktor seperti luka berat di kepala, stroke, atau tumor otak.

  • Epilepsi idiopatik (primer): Jenis epilepsi yang penyebabnya tidak diketahui. Namun, terdapat dugaan bahwa kondisi ini disebabkan oleh faktor keturunan (genetik).

 

Faktor Risiko Epilepsi

 

Selain beberapa penyebab yang diduga dapat memicu epilepsi di atas, ada pula beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena epilepsi. Berikut di antaranya:

 

  • Riwayat kejang di masa kecil.

  • Infeksi otak.

  • Demensia.

  • Penyakit vaskular atau stroke.

  • Cedera pada kepala.

  • Riwayat keluarga dengan epilepsi.

  • Berusia di bawah 2 tahun atau lansia di atas 65 tahun.

 

Gejala Epilepsi

 

Pada sebagian besar kasus, gejala epilepsi dapat berupa kejang yang terjadi secara spontan dan tidak berlangsung lama, namun berulang. Beberapa gejala lain yang dapat dialami oleh bayi, anak-anak, atau orang dewasa pengidap epilepsi adalah sebagai berikut:

 

  • Tatapan kosong (terlalu lama fokus pada satu titik).

  • Gejala psikis.

  • Otot terasa kaku.

  • Merasa kebingungan sementara.

  • Gerakan menyentak pada kaki dan tangan yang tak terkendali.

  • Kejang/tremor pada sebagian tubuh atau keseluruhan.

  • Mengalami kejang yang disertai dengan tubuh menegang dan hilang kesadaran secara spontan sehingga penderitanya tiba-tiba terjatuh.

 

Gejala epilepsi

 

Diagnosis Epilepsi

 

Untuk menegakkan diagnosis, dokter akan melakukan wawancara medis (anamnesis) terkait gejala yang dialami serta riwayat kesehatan pasien. Setelah itu, akan dilakukan beberapa pemeriksaan untuk mendiagnosis kondisi pasien, seperti:

 

  • Pemeriksaan neurologis: Bertujuan memeriksa fungsi otak, kemampuan motorik, serta perilaku pasien.

  • Tes darah: Untuk mengetahui adanya masalah kesehatan lain yang dapat menyebabkan epilepsi.

  • EEG (Electroencephalogram): Mendeteksi gelombang otak yang abnormal.

  • Tes pencitraan otak, seperti CT scan, MRI, fMRI, PET scan, dan SPECT.

 

Pengobatan Epilepsi

 

Epilepsi adalah penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Penanganan epilepsi yang diberikan dokter biasanya berupa pemberian obat-obatan untuk mengurangi frekuensi kejang. Apabila langkah tersebut tidak efektif, maka dokter akan menyarankan tindakan operasi.

 

Melalui prosedur operasi tersebut, dokter akan mengangkat area otak yang dapat menyebabkan epilepsi. Namun, dokter akan memastikan terlebih dahulu bahwa area otak tersebut tidak mengganggu fungsi vital seperti komunikasi, penglihatan, atau pendengaran pasien.

 

Penting untuk diketahui bahwa informasi di atas bertujuan untuk edukasi semata dan tidak dapat menggantikan diagnosis resmi serta saran perawatan dari tenaga medis profesional. Sejumlah gejala yang disebutkan pada artikel ini pun tidak secara spesifik mewakili epilepsi mengingat gejala-gejala tersebut juga dapat mengindikasi kondisi medis lainnya.

 

Diagnosis dan rencana terapi yang tepat tentu memegang peranan penting dalam proses penyembuhan penderita epilepsi. Karenanya, perhatikan reputasi serta layanan kesehatan berstandar internasional baik untuk mencari alternatif pengobatan ataupun mencari second opinion guna mendapatkan informasi menyeluruh tentang diagnosis dan rencana terapi Anda.

 

Dengan adanya teknologi medis canggih dan tim dokter berpengalaman, Anda dapat memperoleh tinjauan medis yang komprehensif di Indonesia, tanpa harus ke luar negeri. Oleh karena itu, apabila Anda atau kerabat terdekat mengalami kejang yang terjadi secara berulang, segera kunjungi Dokter Spesialis Neurologi (Otak dan Saraf) di Siloam Hospitals terdekat untuk memperoleh diagnosis yang akurat serta penanganan secara tepat.

 

Sebagai informasi, tahapan pemeriksaan dan tindakan medis yang dijalani terkait epilepsi akan disesuaikan dengan ketersediaan fasilitas kesehatan sehingga bisa saja berbeda di setiap rumah sakit. Tenaga medis profesional akan memastikan seluruh tahapan pemeriksaan dan pengobatan telah sesuai dengan kondisi medis pasien.

 

Untuk memudahkan Anda mendapatkan pendapat medis kedua, hubungi layanan Siloam Medical Concierge. Dengan layanan ini, Anda dapat memperoleh informasi jadwal dokter spesialis dan akses ke fasilitas dan teknologi medis terkini berstandar pelayanan internasional yang diakui secara global. Mari, ambil langkah perjalanan kesembuhan Anda di Siloam International Hospitals.

 

second opinion dokter spesialis

Dokter Kami
dr-kelvin-yuwanda-spn

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Kelvin Yuwanda, SpN, CIPS, AIFO-K

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-jerry-hartawan--sps

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Jerry Hartawan Saputra, SpN, M.Si.Med

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Putera Bahagia

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-dorothea-fortuna-meita-caturwulan-sps

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Dorothea Fortuna Meita Caturwulan, M.Kes, Sp.N, F.MIN, CIPS, FIPP

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Purwakarta

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail